Sabtu, 17 Maret 2012

BUDAYA BACA


Bangun Budaya Baca

Ketika sebuah bangsa secara perlahan tapi pasti mengalami penurunan minat baca, maka bersiaplah dengan kemunduran yang lambat laun akan mengukung bangsa tersebut di hari kemudian. Kemajuan teknologi yang ada sekarang tentu tak lepas dari besarnya minat baca para inovator-inovator terkemuka.


Tingkat ketertarikan suatu bangsa akan bacaan dapat dilihat dari berbagai faktor. Parameter yang paling sederhana adalah dari banyaknya buku yang terjual di pasaran tiap tahunnya. Di Jepang, ada sekitar 60.000 buku yang habis terjual dari 128.000 penduduknya. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 10.000 buah. Miris sekali bila kenyataan yang ada ialah masyarakat Indonesia lebih menyukai menyimak sinetron rutin di televisi daripada duduk diam membaca buku. Padahal, pengertian membaca tidak melulu berpegang buku dan diam terpengkur lama. 

Keberadaan Tuna Aksara di Negara Malas Baca 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata baca atau membaca memiliki arti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Tentu media baca adalah tulisan-tulisan, baik tulisan lepas maupun yang sudah dirumpun dalam satu buku. Kegiatan membaca memang dipandang sebagian orang sebagai hal yang membosankan dan justru meningkatkan rasa kantuk usai melakukannya. Pandangan seperti ini yang hidup di tengah-tengah masyarakat sehingga sulit sekali menumbuhkan semangat minat baca di tanah air. 

Persoalan lain yang turut memperlambat laju minat baca di Indonesia adalah keberadaan tuna aksara yang masih menjamur di sudut-sudut daerah. Bukan sepenuhnya salah mereka bila di era teknologi yang sudah membudaya ini mereka justru masih terkungkung dalam kebutaan yang sebenarnya dapat diatasi. Lokasi tempat tinggal yang jauh dari pusat pemerintahan membuat sarana dan prasarana juga sulit menjamah mereka. Belum lagi budaya yang berkembang di masyarakat bahwasanya pendidikan tidak terlalu penting -sebab nantinya mereka akan berladang- menjadikan kepekaan terhadap bacaan tidak meningkat. 

Ketidakseriusan pemerintah dalam menangani permasalahan ini jelas memperkeruh situasi. Jadilah mereka tetap dalam kubangan ketidakmampuan membaca dan tertutup dari akses informasi global. Sedangkan yang sudah mampu membaca hanya sekedar ‘mampu’ belum ‘suka’, ‘hobi’ ataupun ‘gemar’ membaca. 

Tidak Sekedar Membaca yang Tersurat 

Bila seseorang sudah terbiasa membaca yang tersurat, maka akan terbiasa pula membaca yang tersirat. Polemik negara-bangsa Indonesia hanya mampu disadari oleh orang-orang yang teliti ‘membaca’ keadaan. Ketika masyarakat dapat membaca kondisi, maka akan mudah menemukan kekeliruan yang dilakukan pemerintah dalam menjalankan amanahnya. Dari sinilah tercipta masyarakat yang kritis dan dinamis untuk kemudian mempermudah mencari solusi dari tiap perkara yang ada. 

Bila demikian, seberapa peliknya problema yang tengah dihadapi tanah air pasti dapat teratasi dengan cara yang bijaksana dan dewasa. Bukan tidak mungkin Negara ini masih dapat bangkit dari keterpurukan yang saat ini mengekang dengan cara sederhana seperti menanamkan minat baca sejak dini agar kelak dapat dengan mudah mengerti keadaan. Sehingga permasalahan – permasalahan yang ada tidak berlarut – larut hidup seperti yang terjadi sekarang. 

Mari membaca demi kemajuan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar