Selasa, 04 Juni 2013

BUKAN MENGHARDIK TAPI MENDIDIK

GURUKU BUKAN MENGHARDIK TAPI MENDIDIK


Kesibukan menjelang ulangan di sekolah tidak hanya dirasakan oleh peserta didik. Guru pun turut merasakanya, mulai dari pembuatan soal, pengawasan ulangan, dst. Contek-mencontek adalah pekerjaan besar yang selalu menjadi sorotan bagi semua guru di Indonesia. Satu permasalahan belum selesai kini timbul masalah yang lebih besar. Bagaimana jika peserta didik mencuri soal ulangan dari guru sebelum ulangan dilaksanakan? Apa yang akan kalian lakukan sebagai seorang guru?


Kisah nyata ini terjadi menjelang Ulangan akhir semester. Seorang siswa ketahuan telah memiliki soal ulangan suatu pelajaran. Siswa ini menjual soal ulangan tersebut kepada teman-teman satu sekolahnya dengan harga tertentu. naasnya peristiwa ini diketahui oleh guru satu sekolah. Siswa tersebut memang di cap sebagai anak bandel di dalam kelas yang terkenal tukang bikin masalah. Lengkaplah sudah labelitas siswa tersebut. Melakukan masalah di cap siswa bermasalah dari kelas pembuat masalah. Kelas X yang seharusnya mengawali masa-masa indah di SMA kini berubah seketika seolah-olah kiamat ada di depan mata sang anak.

Penghakiman dimulai dari guru yang membuat soal kemudian merambat hampir ke semua guru di sekolah tersebut, dan sampailah masalah ini di tangani ke wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Tangisan, tatapan kosong sang anak tampaknya tidak mempengaruhi kemarahan para guru atas perbuatanya. Saya tak tahu apa yang dia pikirkan, mungkin dikeluarkan / sekedar skorsing. Yang pasti dari tatapan matanya dia mengharapkan iba kemanusiaan dari seorang guru. Wakasek bidang kesiswaan akhirnya melaporkan kepada kepala sekolah, dan akhirnya terjadi dialog yang tidak saya duga-duga.

Wakasek: Ini, Pak, si Budi (sebut saja begitu) dia berani-beraninya mencuri soal ulangan kemudian berniat menjual ke teman-temannya satu angkatan.

Kepala Sekolah: Kenapa bisa dicuri ?

Wakasek: Kata guru pembuat soal, sepertinya anak ini mencuri soal tersebut langsung dari laptop sang guru.

Kepala Sekolah: Hmmmmmm, bagus dong.

Wakasek: Kok bagus pak ? dia ini telah mencuri loh. Harus diberi hukuman yang berat.

Kepsek: Gurunya yang bersalah, anak itu tak pantas dihukum. Anak itu hebat, karena menunjukkan keberanianya. Untuk mengambil file di laptop di dekat guru yang sedang mengajar tentu butuh keahlian dan kecepatan. ini murni kelengahan guru tersebut. Kenapa membiarkan file ulananganya mudah ditemukan dan dicuri.

Wakasek: Gak bisa gitu dong pak, anak itu jelas – jelas telah mencuri.

Kepsek: Anak itu tidak mungkin benar – benar merencanakan pencurian soal ulangan tersebut. Apakah terbesit dalam pikiranya. “ karena udah mau ulangan gw harus mencuri soal ulangan dari bu guru.” Saya rasa tidak. Anak itu mencuri karena ada kesempatan yang timbul atas kelengahan guru tersebut.

Autokritik untuk Guru

Percakapan di atas adalah ilmu yang sangat berharga buat kita semua. Bagaimana seorang guru bersikap, dan memahami masalah peserta didik. Keberadan guru di dalam kelas tidak lepas dari berbagai macam bentuk kesalahan oleh guru itu sendiri. Menjadi seorang guru bukan berarti mengharuskan kita untuk hilang ingatan bagaimana mengevaluasi diri. Apakah kita yang salah? ataukah anak yang salah?

Ketika terjadi kesalahan yang terjadi didepan matanya, yang pertama kali dilakukan adalah mengevaluasi diri sendiri terlebih dahulu kemudian baru orang lain. Seperti apa yang dilakukan Al Ghazali dalam membangun kembali Akhlak Umat Islam di masa Perang Salib. Pertama kali ia merubah dirinya sendiri, kemudian baru mengubah orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah, “ Sesungguhnya Alah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (Ar-Ra’ad : 11).

Kebiasaan mengkritik diri sendiri sangat diperlukan oleh seorang guru. Karena peserta didik mempelajari ilmu di sekolah melalui seorang guru. Apakah sudah menjadi teladan dan mengayomi peserta didik dengan baik? Tentunya ini perlu kita renungkan kembali sebagai seorang guru ataupun dalam lingkungan keluarga.

Siswa dan Ruang memperbaiki kesalahan

Seorang siswa tentu bukanlah manusia yang luput dari kesalahan. Bahkan siswa pun sebenarnya membutuhkan ruang-ruang untuk mengalami kesalahan, dan sekolah perlu untuk menciptakanya. Namun bukan berarti siswa dihimbau untuk nekat walaupun sudah mengetahui bahwa tindakan yang akan ia lakukan adalah salah. Setiap kesalahan siswa harus diletakan dalam konteks pembelajaran, bukan penghakiman.

Ruang kesalahan ini ada untuk membiasakan siswa untuk merefleksikan setiap pengalaman hidupnya. Seorang guru harus secara jernih mendengar argumen-argumen mereka ketika melakukan kesalahan. Dengan terciptanya ruang kesalahan seorang siswa diharapkan dapat memahami tentang tanggung jawab diri dalam lingkungan sosial. Ketertiban timbul bukan karena adanya peraturan, tetapi karena ada kesadaran dan tanggung jawab sosial. Jika kita mencuri soal ulangan, maka kita akan merugikan orang-orang yang sudah gigih belajar. Diri kita sendiri pun akan merugi, karena hanya mendapatkan nilai di atas kertas , namun tidak mendapatkan ilmu apapun.

Merasakan kesalahan ataupun kegagalan adalah jalan yang harus dilewati para murid. Richard Sam Bera perenang terkenal Indonesia yang telah banyak meraih banyak medali dan piala pun tak luput dari melakukan kesalahan. Namun bagi beliau kegagalan yang terjadi karena kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah proses untuk menjadi lebih baik.

Guru harus lebih jernih lagi dalam menyikapi setiap kesalahan peserta didik. Karena sering kali kita tidak sadar, berniat ingit memberi pelajaran tetapi sesungguhnya kita malah menghancurkan harapan mereka. Karena peran guru bukanlah menghardik tetapi mendidik.
Ada ratusan medali dan piala di lemari saya, tetapi ada ratusam lagi yang saya gagal raih. Tetapi itulah yang membuat semua medali keberhasilan yang saya dapatkan terasa lebih manis. ~Richard Sam Bera, Surat Dari dan Untuk Pemimpin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar