Selasa, 04 Juni 2013

ANTARA DUA SEKOLAH

ANTARA SEKOLAH HATI DAN SEKOLAH BERGENGSI


ALHAMDULILLAH, awal Mei ini anak-anak sudah melewati Ujian Nasional (UNAS/UN), yang diakhiri untuk tingkat Sekolah Dasar. Pada saat yang sama, orangtua bergeliat mencari sekolah bagi putra-putrinya. Bahkan beberapa sekolah menyatakan telah menutup pendaftaran, karena kapasitas ruang sudah terpenuhi, tanpa menyediakan tempat untuk cadangan.

BUKAN MENGHARDIK TAPI MENDIDIK

GURUKU BUKAN MENGHARDIK TAPI MENDIDIK


Kesibukan menjelang ulangan di sekolah tidak hanya dirasakan oleh peserta didik. Guru pun turut merasakanya, mulai dari pembuatan soal, pengawasan ulangan, dst. Contek-mencontek adalah pekerjaan besar yang selalu menjadi sorotan bagi semua guru di Indonesia. Satu permasalahan belum selesai kini timbul masalah yang lebih besar. Bagaimana jika peserta didik mencuri soal ulangan dari guru sebelum ulangan dilaksanakan? Apa yang akan kalian lakukan sebagai seorang guru?


Rabu, 29 Mei 2013

REFLEKSI HARI INI

Prihatin

Kawan. Ini adalah cerita yang kuramu dengan berbagai jenis tamanan kesedihan, tumbuhan memilukan, dan pohon penderitaan. Yang kucabut secara paksa dari akar kemiskinan, dengan dahan ketidakberdayaan, dan daun ketidakmampuan. Tak ada kesemuan dari semua ini. Adalah kisah nyata, dari kegagalan system pemerintahan. Yang kata orang pintar disebut neoliberal, atau pun kapitalisme. Entah apa, aku tak tahu. yang kutahu secara praktis adalah akibat dari mereka semua, kita miskin di negeri yang kaya. kita impotensi di negera yang super-potensi. Kita tak bangga ditanah air mahadaya. 

Sabtu, 25 Mei 2013

AYO BERGERAK !


Bergerak atau Tergantikan
Membangun Karakter Pemimpin
Setiap diri  kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta  pertanggung jawabannya atas apa yang dipimpinnya” (H.R. Bukhori)

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia
(Q.S. Ali Imron : 140)


Kehilangan nama, akan membuat seseorang atau komunitas seperti laksana tumbuhan yang tidak mempunyai tempat kuat untuk berpijak dan tidak menghasilkan buah.Kehilangan identitas bak hilangnya mahkota dari singgasana raja, sehingga luluh kemuliaannya. Ketika diri kehilangan kemuliaan, saat itulah hilang tenggang rasa dan rasa peduli dengan pandangan-pandangan yang ada dalam balutan hedonism. Jika semuanya hilang, maka hidup hanyalah sekedar hidup tanpa makna.

Rabu, 22 Mei 2013

manuasia pembelajar


Jadilah Manusia Pembelajar
31 Maret 20130 comments


Suatu ketika saya pernah melihat bagaimana anak kecil belajar berjalan ditemai kedua orang tuanya, cukup lama saya memperhatikan bagaimana anak kecil itu mulai berjalan dari awal ketika dia berjalan masih di tuntun oleh ayahnya hingga dilepas agar anak itu berani belajar berjalan sendiri, saya perhatikan kurang lebih kira kira anak itu berumur 1 tahun lebih. Sejenak saya terdiam dan berfikir cukup lama sambil memperhatikan anak kecil itu belajar berjalan mulai dari dituntun, akhirnya dilepas, terduduk dan jatuh kemudian menangis, luka, tapi dia tak lelah dan tak menyerah dalam mencoba sampai akhirnya anak itu tertawa dengan riang dan puas ketika mampu berjalan hingga akhirnya tanpa sadar anak itu mampu berlari kearah ibunya dan lari kembali kearah ayahnya dengan semangat. 


Minggu, 03 Februari 2013

TENDANGAN BEBAS


Sains Di Balik Tendangan Bebas Terbaik
Tendangan bebas terbaik Roberto Carlos bukanlah sebuah kebetulan, menurut para ilmuwan.

Salah satu gol paling menakjubkan dalam dunia sepak bola internasional bukanlah sebuah kebetulan, menurut klaim para ahli fisika setelah mempelajari sains tendangan bebas yang rasanya tak mungkin.

Roberto Carlos (Brasil) melakukan tendangan dari jarak 35 m ke arah gawang Perancis pada tahun 1997 yang nampaknya mengarah ke sudut lapangan tapi membelok seperti pisang ke dalam jaring gawang.
Pembekokannya sangat jelas sampai-sampai penjaga gawang Perancis Fabien Barthez tidak bergerak untuk menjaga gawangnya dari bola karena dalam pikirannya bola itu akan keluar.

Jumat, 30 November 2012

CALISTUNG DI PAUD


Perlukah Mengajarkan Calistung di Usia Dini?

Tak sedikit orangtua yang bangga dengan kemampuan balitanya dalam membaca, menulis dan berhitung (calistung). Mereka yakin anak yang diajarkan kemampuan calistung sejak dini lebih pintar dari anak seusianya.

Di tambah lagi, kini semakin banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswanya punya kemampuan calistung, kendati hal itu sebenarnya dilarang. Karena khawatir anaknya tidak bisa masuk ke SD favorit, para orangtua pun berlomba-lomba mengajari anaknya calistung, antara lain dengan memilih playgroup atau TK yang menjamin balita mahir calistung sebagai persiapan masuk SD.
Apabila minat membaca dan menulis anak sudah muncul sejak dini mungkin proses mengajarkan calistung pada anak menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Namun faktanya kebanyakan anak baru benar-benar siap belajar membaca dan menulis di atas usia 5 tahun.